Selasa, 10 Oktober 2017

Buku Biologi - Indikator Pencemaran Lingkungan

Buku Biologi - Indikator Pencemaran Lingkungan


Penulis         : Dr. Oksriani Jufri Sumampouw, M.Kes
                       Prof. Yenni Risjani, DEA, PhD
Kategori       : Buku Referensi
Bidang Ilmu : Buku Biologi


Buku Biologi - Indikator Pencemaran Lingkungan | Kualitas lingkungan baik air, tanah dan udara semakin hari semakin terdegradasi. Hal ini membuat tindakan pencegahan pencemaran dan pemantauan kualitas lingkungan telah dilakukan lebih intensif dan berkualitas. Ada beberapa jenis pemantauan kualitas lingkungan dan salah satunya yaitu secara biologi. Metode pemantauan kualitas lingkungan ini bisa dilihat dengan keberadaan beberapa spesies makhluk hidup seperti tumbuhan, serangga, ikan, virus dan bakteri yang disebut sebagai bioindikator. Bakteri sebagai bioindikator dapat digunakan sebagai indikator buruk tidaknya kualitas lingkungan. Kualitas lingkungan yang buruk berarti telah terjadi pencemaran. Beberapa jenis bakteri telah digunakan sebagai bioindikator dalam pemantauan kualitas lingkungan seperti Coliform, Escherichia coli, Streptococcus sp., Pseudomonas sp., Vibrio sp., Clostridia sp., Bifidobacterium pseudolongum, Arcobacter sp., Thiobacillus sp., dan beberapa bakteri lainnya. Beberapa jenis bakteri ini dapat mejadi bioindikator pencemaran limbah rumah tangga (feses manusia dan hewan, air limbah rumah tangga dan lainnya), pencemaran logam berat, minyak mentah dan lainnya.

Lingkungan merupakan tempat hidup sekaligus menjadi tempat penampungan limbah hasil aktivitas manusia. Lingkungan memiliki kemampuan bertahan dalam keadaannya dan menetralkan diri kembali ke keadaan awal jika limbah tersebut masih berada dalam batas daya dukung lingkungan tersebut. Lingkungan dapat menerima limbah yang berasal dari rumah tangga maupun industri yang ada di lingkungan tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan keadaan kualitas lingkungan baik itu air, tanah dan udara termasuk flora, fauna dan mikroorganisme. Khusus untuk mikroorganisme, jenis dan jumlahnya di lingkungan dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan dan limbah yang masuk ke lingkungan yang dapat menghambat dan menstimulus pertumbuhan mikroorganisme.


Menurut Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Pasal 20 ayat 2 bahwa baku mutu lingkungan hidup terdiri dari baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu air laut, baku mutu udara ambient, baku mutu emisi, baku mutu gangguan, dan baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan baku mutu tersebut, pada umumnya pengukuran kualitas lingkungan dapat dilihat berdasarkan parameter kimia, fisika dan biologi.

Rabu, 27 September 2017

Bahan Bakar Nabati



Penulis:

Prof. Dr. Ir. Rizald Max Rompas
Nickson J. Kawung, S.Si., M.Si.
Sandra O. Tilaar, S.Pi., M.Si.

Buku biologi ini menjelaskan bagaimana dua dekade belakang ini, problematik energi telah menjadi perbincangan serius di sidang-sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, karena permintaan bahan bakar di dunia cenderung naik, ironi cadangan minyak bumi yang dimiliki oleh negara-negara penghasil minyak semakin menipis. Ditambah lagi adanya peristiwa perang di wilayah Timur Tengah serta kenaikan produksi mobil, motor bike, dan transport udara, semua ini mendorong kekuatiran akan bahan bakar fosil habis. Untuk itu seruhan kepada negara-negara di dunia berhemat energi dan mencari solusi energi alternatif. Energi baru dan terbarukan (renewable energy), seperti panas bumi, angin, ombak, arus laut, bahan bakar nabati (biofuel) dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) telah menjadi pilihan energi alternatif.

Indonesia dikenal dunia sebagai negara kepulauan terbesar, memiliki luas laut ± 75,3% dari luas keseluruhan wilayah. Posisi geografis, Indonesia terletak di daerah katulistiwa yang memiliki sumber daya alam megabiodiversitas. Olehnya tidak dapat dipungkiri negara kita berkemampuan menyediakan bahan bakar untuk transportasi, seperti gasolin, biodiesel, bioethanol dan biopelumas berbahan baku nabati.

Memang disadari negara kita telah mencoba programkan bioethanol dan bioenergi dari bijik jarak dan minyak sawit, tetapi tidak berjalan lancar, karena kompetitif pemanfaatan lahan dan harga minyak sawit di kalangan internasional tergolong baik. Sehingga program pemerintah energi terbarukan terhenti. Padahal sesungguhnya, makroalga dan mikroalga yang tersedia di perairan Indonesia sangat berpolah, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel.

Keunggulan alga sebagai bahan baku biofuel yaitu: (1) tidak berkompetisi dengan lahan pertanian dan pemukiman manusia; (2) tumbuh sangat cepat dan tidak memerlukan waktu panjang; (3) bahan bakar berasal mikroalaga/fitoplankton dapat diusahakan sebagai usaha ‗home industry’, seperti yang dilakukan oleh negara Irlandia dan Brazil; (4) luas perairan (laut dan air tawar) sangat luas; dan (5) Indonesia terletak di zamrut katulistiwa, yang sepanjang tahun suhu relatif sama dan kuantitas peneterasi sinar matahari ke bumi tetap tersedia cukup.

Dengan demikian, buku biologi ini banyak membahas alga sebagai bahan bakar nabati ketimbang jarak pagar (Jathropha curcas L). Kemudian bagian bab lainnya merupakan teori dasar cara pemurnian minyak, baik minyak mentah dari fosil maupun bahan nabati/hayati.

Buku biologi ini cocok bagi para kaum cendekia, pebisnis, para birokrat (pengambil kebijakan di pemerintahan) dan masyarakat umum pemerhati energi. Buku biologi ini akan mendorong kita agar memanfaatkan sumber daya alam hayati untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar, sehingga negara kita tidak lagi mengharapkan energi dari fosil.